SIGLI – DNA Indonesia memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan oleh Universitas Jabal Ghafur (UNIGHA) Sigli melalui riset BISINDO-AI, sebuah teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk mendukung komunikasi dan literasi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) bagi siswa tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Founder DNA Indonesia, Novita Diana, M.Pd., menilai bahwa pengembangan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus merupakan langkah penting dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
“Teknologi seharusnya mampu membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi semua kalangan. Inovasi seperti BISINDO-AI menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan solusi nyata bagi dunia pendidikan, khususnya bagi siswa tunarungu,” ujarnya.
Riset BISINDO-AI dikembangkan oleh tim peneliti UNIGHA yang dipimpin oleh Dr. Mustakim Sagita, S.Pd., M.Pd. Teknologi ini dirancang sebagai asisten digital yang membantu proses pembelajaran tanpa menggantikan peran guru di ruang kelas.
Melalui sistem tersebut, gestur bahasa isyarat siswa dapat diterjemahkan menjadi teks atau suara secara real-time. Sebaliknya, materi yang disampaikan guru dalam bentuk teks maupun suara dapat diterjemahkan ke dalam animasi avatar BISINDO sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa tunarungu.
Selain mendukung komunikasi dua arah, BISINDO-AI juga menyediakan fitur latihan mandiri yang membantu siswa meningkatkan penguasaan kosakata dan struktur kalimat. Platform ini turut dilengkapi dengan dashboard analitik yang memungkinkan guru memantau perkembangan kemampuan komunikasi dan literasi siswa secara lebih terukur.
Menurut Novita Diana yang juga Dosen & Peneliti di UNIGHA, inovasi seperti BISINDO-AI menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia pendidikan, komunitas, dan pemanfaatan teknologi dapat menghasilkan solusi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
DNA Indonesia memandang bahwa pengembangan teknologi pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek digitalisasi, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan. Karena itu, upaya yang dilakukan UNIGHA dinilai sejalan dengan semangat pendidikan inklusif yang mendorong setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pengembangan BISINDO-AI menggunakan pendekatan Quadruple Helix dan Living Lab Systemic Innovation yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk peneliti, guru SLB, siswa tunarungu, dan orang tua. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta berkelanjutan dalam implementasinya.
DNA Indonesia berharap inovasi seperti BISINDO-AI dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai solusi teknologi lainnya yang mendukung pendidikan inklusif, tidak hanya di Aceh tetapi juga di tingkat nasional.
Dengan hadirnya teknologi yang lebih adaptif dan ramah bagi penyandang disabilitas, masa depan pendidikan diharapkan semakin terbuka, inklusif, dan mampu memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.
